Film ini mengisahkan tentang seluk beluk
rekruitmen yang terjadi di tubuh CIA, sebuah badan inteljen yang handal baik
kecerdasan olah data dengan didukung oleh peralatan
paling canggih diantara negara-negara lainnya.
Setiap anggota yang masuk ke badan inteljen ini, dipersiapkan untuk menjadi agen mata-mata yang akan ditugaskan ke berbagai negara. Mereka juga harus belajar untuk dapat bertahan hidup dengan segala kondisi yang ada, berbagai penyiksaan apabila ditangkap oleh musuh dan harus tetap menyimpan rahasia walau nyawa tebusannya. Tidak hanya itu, mereka juga harus siap pula bahwa negaranya tidak mengakui keberadaan dirinya lagi.
Setiap anggota yang masuk ke badan inteljen ini, dipersiapkan untuk menjadi agen mata-mata yang akan ditugaskan ke berbagai negara. Mereka juga harus belajar untuk dapat bertahan hidup dengan segala kondisi yang ada, berbagai penyiksaan apabila ditangkap oleh musuh dan harus tetap menyimpan rahasia walau nyawa tebusannya. Tidak hanya itu, mereka juga harus siap pula bahwa negaranya tidak mengakui keberadaan dirinya lagi.
Cerita ini berawal dari perekruitan yang dilakukan oleh agen CIA
terhadap salah satu calon agen yang bernama James Clayton (Colin Farrell). Ia
memiliki prospek kecerdasan yang tinggi dengan suatu tindakan diluar kebiasaan,
menarik perhatian agen senior yang sudah menjadi veteran, Walter Burke (Al
Pacino).
Berkat pengaruh Burke, Clayton akhirnya mendapat latihan khusus
tentang bagaimana menjalani agar selalu bisa bertahan dengan berbagai
gemblengan dan penyiksaan, sehingga mengantarkan Clayton cepat naik dari
latihan dasar tersebut.
Kemudian, ia diberi tugas khusus untuk mengungkapkan seorang agent
yang dicurigai dan telah berhasil menerobos badan inteljen tersebut. Hingga
akhirnya, ia harus menyadari selama dalam tugas, tak seorangpun yang dapat
dipercaya dan tidak ada apapun yang dapat ia
lihat.
Terima kasih Diana untuk ulasannya ini, namun bagaimana kaitannya dengan teori nilai dan sikap dalam organisasi...?
BalasHapus